Komoditas Tani di Dieng

“Dieng merupakan sebuah wilayah tepat di tengah Pulau Jawa dengan ketinggian 1.600-2.100 mdpl. Memiliki bentang alam hijau yang luas dan panorama berbukit-bukit dengan balutan awan menggumpal serupa permen kapas di sekelilingnya. Suhu dingin yang hampir setiap hari dirasakan, membuat Dieng disamaratakan dengan suhu negara-negara di Eropa. Dieng ditinggali oleh hampir 2.500 jiwa yang mayoritas berprofesi sebagai petani.”

Ah, rasanya membuka sebuah cerita dengan sederet kalimat tersebut sedikit membosankan. Letak geografis Dieng sepertinya tidak perlu lagi diceritakan berulang-ulang. Penduduk yang mayoritas petani juga takperlu lagi dibingkai sebagai sebuah romansa atmosfer pedesaan di kaki gunung.

Penduduk Dieng juga bagian dari masyarakat Indonesia yang menggantungkan hidupnya melalui bertani. Meskipun demikian, pada tahun 80-an, penduduk Dieng mulai memiliki variasi mata pencaharian, yaitu pelaku wisata. Namun, relasi Dieng dan petani seolah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Dari banyaknya literasi yang tersebar di internet tentang sejarah pertanian Dieng, diketahui bahwa bertani merupakan cara hidup masyarakat Dieng sejak migrasi bangsa Kalingga. Sudah sangat tua dan berlangsung secara turun-temurun.

Saking lamanya, takheran penduduk Dieng selalu mewariskan sepetak lahan pertanian pada setiap anak-anaknya. Yang nantinya, akan diteruskan lagi ke generasi selanjutnya. Ini menjadi hal lumrah jika kamu ke Dieng dan melihat bentang lahan pertanian sejauh mata memandang. Coba saja kalikan sepetak lahan dengan jumlah penduduk di Dieng, luasan tanah yang fantastis bukan?

Oleh karena itu, hasil pertanian tanah Dieng dapat ditemui di pasar-pasar tradisional. Meskipun mayoritas hasil pertaniannya adalah kentang–dan pamornya, taksedikit pula petani-petani yang membudidayakan tanaman selain kentang.

Nah, hasil pertanian Dieng sejatinya memiliki keberagaman. Pamornya pun dipercaya memiliki kualitas terbaik. Inilah beberapa hasil pertanian Dieng, yang bisa saja kamu temui kala berkunjung kemari.

  1. Kentang 

Siapa yang belum mengenal kentang Dieng? Tanaman ini menjadi primadona di Dieng. Tidak heran jika berkeliling Dieng, akan dengan mudah menemui berhektare-hektare lahan tanaman kentang. Tanaman yang dibawa dari Pangalengan ini menghasilkan umbi berukuran besar, berkulit halus, tipis, dan memiliki ketahanan di suhu ruang lebih panjang dibandingkan dengan kentang dari daerah lain.

Pada masa kejayaannya, tahun 1980-2000, petani kentang Dieng mendapatkan keuntungan berlipat-lipat ganda dari modal yang tak seberapa untuk penanaman ini. Namun, perubahan cuaca ekstrem sejak tahun 2000-an, membuat beberapa hektare lahan kentang gagal panen. Fenomena ini berangsur selama beberapa tahun sehingga kualitas kentang Dieng taklagi seprima sebelumnya. Bahkan, karakter tanaman kentang yang akarnya tidak mengikat tanah pun menjadi faktor terjadinya banjir dan longsor di Dieng pada tahun 2022 silam.

  1. Kubis atau kol 

Tanaman yang memiliki bentuk bak mahkota ini juga salah satu budidaya yang sudah ditanam sejak lama. Belum diketahui pasti kapan tanaman ini masuk Dataran Tinggi Dieng. Namun, kubis adalah tanaman yang lekat dengan daerah kaki gunung. Hal ini karena kubis menyukai suhu di ketinggian 1.000-3.000 mdpl dengan karakter tanah lembap yang tidak becek. Mayoritas kubis yang ditanam di Dieng adalah jenis Brassica oleracea dengan warna putih.

Di Dieng, kubis umumnya dipanen hampir bersamaan dengan panen kentang, yaitu 3–4 kali dalam setahun. Menurut data Badan Pusat Statistik Wonosobo pada tahun 2019, kubis yang berhasil dipanen dari Dieng sejumlah 341 ton. Jumlah ini menurun 2 ton dari tahun sebelumnya sebagai dampak dari cuaca ekstrem.

  1. Wortel

Tanaman yang erat dilabeli sebagai makanan kesukaan kelinci ini juga merupakan hasil pertanian di Dieng. Tanaman dengan nama ilmiah Daucus carota ini bisa kamu temukan di sekitar wilayah Batur, wilayah Igirmranak hingga Wates (termasuk dalam wilayah Dieng di Kabupaten Temanggung). Wortel dari Dieng memiliki karakter umbi berukuran kecil hingga sedang dengan warna oranye pekat. Umumnya, wortel di Dieng memiliki masa panen satu hingga dua kali dalam setahun dengan hasil panen mencapai 25,7 ton di tahun 2018 (data BPS Wonosobo).

  1. Carica

Buah yang menjadi oleh-oleh khas Dieng ini juga merupakan komoditas tani dengan hasil yang cukup tinggi. Setiap pohonnya menghasilkan kurang lebih 10–20 kg buah carica dengan ukuran bermacam-macam. Di Dieng sendiri, budidaya pohon carica tidak dikhususkan dalam sepetak lahan. Umumnya, pohon carica ditanam di pinggiran lahan kentang, wortel, kubis, ataupun daun bawang sebagai pembatas.

Ada pengecualian di Desa Patak Banteng, beberapa warganya memiliki lahan di belakang rumah yang sengaja ditanami pohon carica dalam jumlah besar. Pohon carica termasuk tanaman yang cepat berbuah. Masa panennya bisa mencapai dua kali dalam seminggu. Puncak masa panen carica terjadi di musim kemarau atau kisaran bulan April hingga Juli. Adapun pohon carica dapat hidup hingga usia 20 tahun. 

  1. Bawang daun atau loncang

Bawang daun atau yang lebih dikenal dengan sebutan loncang bisa kamu temui lahannya di daerah Garung, Tambi, Kejajar, hingga perbatasan Kabupaten Temanggung, dan beberapa di daerah Batur menuju Wanayasa. Lahan perkebunan loncang di Dieng juga termasuk luas. Dengan masa panen hampir 3 bulan sekali, produksi loncang di Dieng bisa mencapai 81,5 ton pada tahun 2020 lalu. Pendistribusian bawang daun tidak hanya ke pasar tradisional di Kabupaten Wonosobo, tetapi juga mencakup wilayah Kabupaten Temanggung hingga Magelang.

  1. Terong Belanda atau kemar

Sesuai namanya, terong Belanda pertama kali sampai di Dieng karena dibawa oleh bangsa Belanda pada era kolonial. Buah ini memiliki banyak sebutan, di Wonosobo disebut kemar, di Bali disebut tuwung kayu atau terung kayu. Di dieng, buah kemar menjadi salah satu varian oleh-oleh selain carica. Buah yang habitat aslinya dari Peru ini menyukai hidup di wilayah pegunungan dengan suhu 20–27 derajat Celcius. Di Indonesia, suhu ini dapat ditemui di wilayah dengan ketinggian 1.000–2.000 mdpl, seperti Dieng.

Di sepanjang daerah Desa Tambi hingga Desa Sikunang, kamu dapat dengan mudah menemui pohon ini. Letak pohonnya ada di sekitar jalan utama dan warna buahnya yang mencolok tentu menarik perhatian siapapun yang lewat. Pohon kemar ini baru berbuah setelah 2 tahun sejak penanaman bibit. Kemar juga mampu bertahan hingga 5–6 tahun lamanya. Ketika sudah berbuah, setiap masa panennya, pohon kemar menghasilkan 75 kg buah dari setiap pohon dalam satu tahun. Jumlah yang tidak sedikit ini pun menjadi salah satu alasan buah kemar diproduksi secara massal sebagai oleh-oleh khas Dieng.

  1. Cabe gendot

Cabe yang memiliki tingkat kepedasan 100.000–350.000 skala Scoville ini digadang-gadang memiliki kesamaan dengan cabai jalapeno. Secara fisik, memang kedua cabai ini berwarna serupa. Namun, cabai gendot lebih mengacu pada kultivar habanero dengan warna dominan hijau.

Di Dieng, kamu bahkan bisa menjumpai pohon cabai ini di depan rumah warga dengan buah yang rimbun. Tidak perlu jauh-jauh hingga perkebunannya. Pohon cabai gendot yang produktif dapat dipanen setiap dua hingga empat bulan sekali. Harga pasarannya Rp10.000,00 per kilogram dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh sekitar kawasan wisata Dieng.

  1. Kacang babi

Jika kamu mencari kacang ini di mesin pencari, akan ada dua bahasa ilmiah yang disebut-sebut sebagai kacang babi. Namun, kacang babi yang banyak dibudidayakan di Dieng adalah varian kara oncet atau dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan Vicia faba. Pohonnya hampir mirip dengan kacang tanah, tetapi memiliki buah serupa kacang kara dengan ukuran lebih besar dan bulat. Sebutan kacang babi merujuk karena bentuk kacang ini yang besar dan bulat.

Umumnya, kacang ini dijadikan oleh-oleh juga di Dieng. Tanaman yang menyukai suhu 18–27 derajat Celcius ini dapat ditemukan di sekitar basecamp Prau via Dwarawati. Setiap empat bulan sekali pada masa panen, kacang babi yang dihasilkan di Dieng mencapai 14 kg per pohon. Selain didistribusikan ke pasar tradisional, kacang babi juga diolah kembali menjadi camilan yang dijajakan di toko oleh-oleh.

  1. Jamur kancing

Adanya jamur kancing di Dieng lekat hubungannya dengan pabrik Dieng Jaya milik Soeharto, yang sempat berjaya di kancah internasional pada tahun 90-an. Selepas masa pailit tersebut, tidak sedikit mantan pekerja pabriknya membudidayakan jamur secara mandiri. Meskipun kini termasuk dalam usaha rumahan, hasil panennya juga menjadi komoditi pertanian yang diperhitungkan di Dieng. Beberapa lahan yang digunakan untuk budidaya jamur dapat kamu temukan di sekitar Desa Bakal, Desa Tambi, dan Desa Batur.

  1. Purwaceng 

Tanaman ini erat dihubungkan sebagai suplemen vitalitas pria. Padahal, manfaat purwaceng jauh lebih luas dari itu. Sayangnya, lahan purwaceng di Dieng sudah menurun jika dibandingkan dengan kala pertama dikenalkan sebagai salah satu oleh-oleh khas Dieng. Salah satu lahan yang masih dibudidayakan adalah milik nenek dari Ruli, seorang pemuda Desa Sikunang yang juga mendistribusikan purwaceng ke kalangan anak muda.

Tanaman yang hanya dapat tumbuh di sekitar Gunung Prau dan Gunung Pakuwaja ini sangat sulit dibudidayakan, sehingga statusnya dinyatakan hampir punah. Ini juga karena tidak adanya usaha peremajaan tanaman dari para pengolah purwaceng. Dalam pertumbuhannya, tanaman purwaceng dapat dipanen dua kali selama setahun. Karena merupakan salah satu jenis tanaman perdu, proses panennya harus mencabut seluruh tanaman hingga ke akarnya. Lalu, untuk dibudidayakan kembali, pemilik lahan akan menaruh bibit baru di tanah atau media tanam yang sudah disiapkan.

Itulah beberapa komoditas pertanian yang ada di Dieng. Data yang disampaikan ini belum termasuk jenis bunga, pohon kayu, dan tanaman-tanaman lain yang juga memiliki hasil panen cukup tinggi di Dieng. Sebab persebaran pasar yang semakin meluas, hasil bumi dari Dieng tidak hanya didistribusikan di sekitar Dieng-Wonosobo-Banjarnegara saja. Bisa jadi, salah satu dari hasil bumi ini susah sampai di sekitar tempat tinggalmu. Hihihi….

Booking on :